Senin, 05 September 2022
Selasa, 17 Mei 2022
Minggu, 03 Oktober 2021
Seratus Ribuan Kakak
Seratus Ribuan Kakak
“Bu ....Ibu...besok
Kakak sekolah lhoooo”, sambil berlari dan memeluk ku dari belakang Si Kakak
mengabarkan bahwa esok ia akan ke sekolah kembali. Aku tersenyum melihat
kepalamya yang menyembul dari belakang punggungku sembari memperlihatkan
gigi-giginya yang belum move on dari keompongannya. “Iya, murid murid ibu juga
sekolah besok, kataku sembari mengusap kepalanya. Ada binar binar bahagia di
balik kelopak matanya, aku tahu Kakak (panggilanku kepadanya) pasti senang bisa
sekolah lagi. Aku akui walau aku seorang guru yang selalu berupaya memenuhi
kebutuhan belajarnya namun suasana kelas serta kehadiran gurunya tak dapat aku
gantikan. Begitupun dengan kata bosan yang sering Ia lontarkan, semoga
Pembelajaran Tatap Muka terbatas ini bisa sedikit menghilangkan kejenuhannya
dengan rutinitas di rumah.
“Buuuu...katanya lagi dengan
pelan sambil menatap wajahku. Aku tahu kalau Kakak sudah berbicara pelan itu
artinya ada hal yang serius yang ingin disampaikannya. “Kenapa kakak?, tanyaku
menyelidik . “Hmmmmhhhhh.....berapa ya harga sepatu?, katanya kemudian. “Tergantung
Merknya sih Kak, ada yang murah ada yang mahal juga sih”kataku lagi. Aku pun
mulai peka kearah mana bakalan omongan si Kakak. Betul saja, Ia bercerita kalau
sepatu yang ia gunakan sudah tidak muat lagi, dua tahun ini tak bisa kupungkiri
bahwa Kakak makin bertumbuh dan berkembang, termasuk ukuran sepatunya. Aku
menghela napas, anak imutku kini makin beranjak besar saja hanya aku sadar aku belum
bisa melepaskan hobby ku untuk selalu menciumi pipi pipi lembutnya. “Bu....boleh
ga kakak beli sepatu? , kakak punya kok uang seratus ribu” katanya lagi. “Ohhhh,
iya boleh kak, nanti pakai uang Ibu aja kak” kataku sembari meraih tangannya. “Ga
bu, kakak punya uang kok” katanya bersikeras. Entahlah apa aku yang terlalu
lebay atau melow, mendengar itu aku begitu terharu, aku ingat diriku sewaktu
kecil, serupa kakak, akupun akan bertanya dulu pada ibuku apakah punya uang
atau tidak ketika aku menginginkan sesuatu. Aku sama sepertimu nak, atau
kamulah yang sama sepertiku?.batinku yang tanya itu hanya menegaskan bahwa gen
itu yang kita wariskan. Tiba tiba si Bapak yang mungkin mendengar pembicaraan
kami datang dan tersenyum sambil menanyakan sepatu si Kakak. “Kak sepatu kakak
udah ga cukup lagi ya?...yuk...kita beli sepatu yukkk, sambil jalan jalan. Si
Bapak mulai membuat rencana perjalanan mereka berburu sepatu. “Tapi nanti kalau
ga dapet gimana Pak? Biasanya Kakak belinya sama Ibu”...Ia melirikku tanda
meminta pendapat. “Nanti kalau ga dapet dan ga ada yang kakak suka kan bisa ga
usah dibeli, kita pergi aja dulu...liat liat” Bapak mulai membujuk kakak. ‘Iya
dah Pak, Kakak siap siap dulu ya”, dengan berlari-lari kecil Kakak mengganti
pakiannya dan duduk manis di Vario hitam bapak sambil memeluk pinggang Bapak
yang lumayan besar. Sambil melambai kututup pintu gerbang depan.
“Bu.....ibu...lihat
ini.......”tergopoh gopoh Ia berlari menuju arahku. Kulihat Kakak ditangan
kananya menenteng kotak sepatu dan tangan kirinya ada Kotak merah dengan aroma
lezat, “Kakak udah punya sepatu baru Bu....”. Makasi ya Bu, makasi ya Bapak”....Ia
menyelinap ke kamarnya sembari memasukkan kembali uang seratus ribuan ke dalam
celengan kaleng bergambar Elsa.
Semoga anak anak lain juga bisa bersukacita menyambut
pembelajaran tatap muka yang walau hanya terbatas namun ini akan menjadi awal
yang baik untuk mengembalikan roh pendidikan...karena sejatinya ada rindu yang
tak terbendung antara kami para Guru dengan para murid murid kami. Selamat
kembali ke sekolah Kakak,.......
Senin, 06 September 2021
Pojok Rumah (Karya : Ni Putu Damayanti,S.Pd)
Pojok Rumah
(Karya : Ni Putu Damayanti,S.Pd)
Baru
sebulan ini aku menempati Rumah baru yang dibuatkan suamiku untukku dan anka
anakku. Rumah sederhana namun cukup luas untuk kami bisa menghabiskan banyak
waktu bercengkrama. Rumahku sering kusebut rumah mewah, bukan karena furniture
atau desainnya tapi terlebih karena letaknya yang mepet sawah. Sebulan tinggal
di lingkungan baru aku sudah mulai akrab dengan para tetangga juga anak anak
kecil yang sering bermain di sekitar rumah.
Klentong
klentong...setiap pagi dan sore suara itu akan selalu hadir di depan rumahku,
suara yang sangat disukai oleh anak laki-lakiku, suara lonceng Sapi, karena
rumahku rumah mewah maka aku sering mendengar lalu lalang petani juga para
sapinya. Ini membuat jiwa petualang si kecil makin berkelebat-kelebat. Setiap suara
itu datang dengan suara cadelnya ia selalu berseru “Iiiibuuu....Ibbuuu, capii,
capiii..ituuutt, itut.”katanya sambil menunjuk nunjuk sapi yang lewat dituntun
seorang Bapak berperawakan tegap dengan
capil di kepalanya. Aku tersenyum dan menyapanya, tak hanya bapak itu terkadang
lewat pula seorang kakek dengan aritnya atau bapak dengan membawa sekeranjang
rumput di pundaknya. Betapa senang anak lanangku itu, mulutnya tak pernah
berhenti berceloteh menunjuk nunjuk setiap petani yang lewat di depan rumah mewah
kami. Namun setelah melihat ketiga lelaki yang sering lalu lalang di depan
rumahku aku jadi merasa gelisah, hadirnya rasa gelisah ini bukan karena aku
takut mereka akan menculik anakku bukan pula aku takut mereka akan merampok
rumahku atau bukan karena mereka akan jatuh cinta padaku (hehhe, kalau ini
kemungkinan yang kebangetan), tapi aku merasa terenyuh melihat apa yang mereka
pakai dalam keseharian mereka. Kadang mereka menggunakan baju camping dan lebih
parahnya celana yang dipakai robek pada bagian yang maaf mungkin mmeperlihatkan
bagian belakang yang agak sensitif. Untuk sebagian orang mungkin akan tertawa
melihatnya. Tapi jujur tak sedikitpun ada tawa terurai dari bibirku. Hanya helaan
yang timbul dari rasa iba di dada.
Pagi
itu setelah selesai memasak dan menyapu halaman depan dan belakang rumah aku
coba untuk mencari-cari beberapa pakaian suamiku yang sekiranya tak
digunakannya lagi. Dua tahun belakangan ini memang tubuh suamiku agak
menggendut mengikuti tubuhku yang seirama dengannya. Aku memantapkan diri bahwa
aku pasti akan dapat menemukan beberapa potong yang tidak muat lagi atau yang
tidak digunaknnya lagi. Betul saja di tumpukan kain kain usang aku menemukan
pakaian pakaian suamiku yang rasanya sudah tidak digunakannya lagi. Aku
mengambil beberapa kaos dengan tulisan-tulisan besar dan memasukkannya ke dalam
plastik transparan. Kuisikan tulisan didalamnya “Silahkan diambil bagi yang
membutuhkan” Aku harus menggunakan cara ini agar keinginan menolongku tidak
menimbulkan cedera di hati dan harga diri mereka, apalagi aku adalah orang baru
di lingkungan ini aku dan belum tahu pasti karakter karakter lelaki lelaki itu.
Pelan-pelan
kubuka pintu gerbang ,kulihat kekiri dan
kekanan. “Ahhh masih sepi” kataku. Kuletakkan bungkusan itu di pojok rumahku.
Besar harapannku bahwa targetku akan sesuai harapanku. Paling tidak merekalah
yang akan mengambil bungkusan itu. Karena aku yakin tetanggaku yang kebanyakan
guru dan pegawai swasta tak kan mungkin meggubris bungkusan itu. 1 jam setelah
aku menaruh bungkusan itu aku mulai kepo untuk melihat apakah sudahnada yang
mengambilnya, kusembulkan kepalaku diantara pintu gerbang dan
menoleh..”Duuh..kok masih ada ya?, tanyaku membatin sendiri, sampai tiga kali
aku bolak balik tapi bungkusan itu tetap rapi menghuni pojok rumahku. Akhirnya
aku lelah dan pasrah, “baiklah kalau tak ada juga yang mengambil artinya aku
sendirilah yang harus mengambilnya lagi. Kemudian aku beraktivitas seperti
biasa, sampai aku lupa dengan bungkusan itu lagi.
Keesokan
paginya, kudengan suara Klentong...Klentong.....si kecil sudah merengek minta
diantar keluar, akupun buru-buru memakai sandal jepitku dan menuntunnya menuju
ke depan, terlihat dua ekor sapi gemuk gemuk tampak dari arah selatan rumahku,
aku tersenyum ke arah bapak dengan capilnya, ada bahagia yang menyembul di
hatiku, menyapa sekilas bapak itu dan mengajak si kecil mengikuti arah sapi
yang akan dibawa merumput di lahan kosong di sekitar rumahku. Kubaca pelan
tulisan-tulisan besar pada punggungnya, sembari menggenggam tangan sikecil
mengikuti lenggak lenggok si sapi...”Buuuu....Ibuuuu...capiii,..halan halan
yuukkkk”...riang celotehnya bersama senyum yang menyembul samar kulihat pada
wajah yang tertutup capil.
Kamis, 19 Agustus 2021
Kelompok untuk Rina
Kelompok
Untuk Rina
Karya
: Ni Putu Damayanti,S.Pd
Aku
adalah seorang Guru IPA di sebuah SMP di kota amlapura kabupaten paling Timur
Provinsi Bali, sebelum aku ikut suami untuk pindah ke kota ini semula aku
adalah Guru di sebuah SMA Negeri. Perbedaan tempat mengajar dan usia
perkembangan siswa yang berbeda membuat aku harus sesegera mungkin beradaptasi
dengan siswa siswi disini. Tidak mudah memang, namun sebagai seorang Guru aku
harus siap menghadapi berbagai tipe murid dan permasalahan yang harus aku
dapatkan solusinya. Hari pertama aku memasuki kelas IX G, aku dikejutkan oleh
suara ribut dari kelas tersebut, kudengar suara anak laki laki berteriak teriak
untuk menyuruh teman-temannya agar diam, karena melihatku sudah ada diambang
pintu kelas. “Selamat pagi anak anak” sapaku untuk mengubah fokus mereka ke
arahku, serentak mereka menjawab “ selamat pagi Bu...”. Segera kuperkenalkan
diri dan kuselipkan candaan di sela selanya agar suasana di kelas menjadi lebih
nyaman. Mulailah aku mengajar materi IPA di depan kelas, selain itu aku
utarakan bahwa penilaian nanti meliputi nilai sikap, nilai kognitif atau
pengetahuan dan keterampilan. Tak lupa aku juga meminta mereka membuat kelompok
belajar untuk kegiatan praktikum IPA, aku meminta kelompoknya dicampur saja ada
siswa laki-laki dan siswa perempuan. Aku berikan waktu mereka untuk mencari
sendiri teman teman sekelopmpoknya, lalu aku meminta ketua kelompok yang
terpilih menyetorkan nama-nama kelompoknya.
Sambil
mengisi jurnal harian guru aku mengamati perilaku muridku, ada yang berebut
temannya, ada juga yang sudah mencatat nama nama kelompoknya. Namun di tengah
keseruan mereka mencari anggota kelompok ada seorang anak perempuan yang sedari
tadi tidak bergeming dari tempat duduknya. Ada bulir bening yang mengaca di
pelupuk matanya, kuperhatikan anak itu dari ujung rambut samapai kakinya,
rambutnya panjang terjalin dua dengan rapi, postur tubuhnya ramping, dengan
kaca mata yang menghias wajahnya yang mungil. Belum selesai aku mengamatinya,
bel tanpa waktunya istirahat berbunyi, aku segera mengakhiri pelajaran dan
meminta nama kelompok yang sudah mereka buat untuk dikumpulkan. Bergegas aku
menuju ruang guru, sambil menyambar botol minumku yang kuletakkan diatas meja, kuperiksa
nama nama siswa di kelas IX G tersebut untuk memastikan semua sudah ada di
dalam kelompoknya masing-masing. Betapa terkejutnya aku ketika aku baru sadar
bahwa ada satu siswa yang tidak tergabung dalam kelompok manapun di kelas
tersebut. “Rina Natasya Ayundari”, kueja nama siswaku perlahan, dengan rasa
penasaran aku buka laptopku dan kucari file daftar nilai kelas VIII semester
lalu di file Drive SMP ini, kucari nama Rina Natasya ayundari, lalu kulihat
deretan angka angka yang tertulis disana, semua hanya KKM, tidak ada nilai yang
bagus semua hanya rata rata saja.bahkan untuk nilai senibudaya dan prakarya
berada di bawah KKM. Tiba tiba dari arah
belakang aku dikejutkan oleh suara yang memanggilku. “Permisi Bu Guru”, sapa
seseorang. Aku memalingkan kepalaku dan tersenyum menyambut orang tersebut yang
tak lain adalah siswa di kelas IX G yang tadi sempat kuamati. “Ayo nak silahkan
duduk dulu!”kupersilahkan siswaku untuk duduk di kursi didepan mejaku sehingga
posisi aku dan anak itu saling berhadapan. “ Ada apa nak?, kamu mencari Ibu”
kataku menimpali. Dengan gugup dan ragu anak itu mulai berbicara” Maaf Bu,
boleh tidak saya tidak berkelompok dalam membuat tugas praktikum Bu?, saya
ingin belajar sendiri saja Bu” katanya terbata. “Sebentar, apa kamu Rina?’tanyaku
padanya. “Iya betul Bu, maaf tadi saya belum sempat memperkenalkan nama saya. “Kenapa
kamu tidak ingin belajar berkelompok Nak? “aku menelisik keinginan anak itu
sembari kembali kulanjutkan pengamatanku kepadanya yang sempat terhenti waktu
di kelas, aku terhenyak ketika melihat kulit dari Rina, kulitnya putih, namun
ada kelupasan kelupasan kulit ari yang hampir menganga di sekujur tubuhnya,
kuperhatikan kelopak mata Rina juga jarang berkedip kendatipun ia sedang
berbicara. Selain itu ada aroma tidak sedap yang tercium oleh hidungku, yang
aku pastikan itu berasal dari tubuh Rina. Aku segera tersadar bahwa Rina
mengidap penyakit Ichtyosis, atau yang biasa disebut penyakit kulit bersisik,
sebagai Guru IPA apalagi basicku adalah Ilmu Biologi aku sempat belajar bahwa
beberapa penyakit ada yang menular dan ada juga yang tidak menular dan
diturunkan dari Gen Orang tuanya, atau disebut penyakit Genetis, salah satu
penyakit genetis atau bawaan dari lahir adalah penyakit kulit yang diderita
oleh Rina. Aku mengerti sekarang mengapa Rina ingin belajar sendiri saja dan
tidak ingin berkelompok, mungkinkah dia malu dengan kondisi tubuhnya?, aku
bertanya dalam hati.
“Saya
takut menulari teman teman Bu, saya punya penyakit kulit’, sambil meremas
jarinya ia menuturkan masalahnya padaku. “Teman-teman juga menjauhi saya dan
tidak berani dekat dekat saya, dari kecil saya memang sudah sering dikucilkan,
saya sering sedih kadang saya merasa kesepian, ingin juga punya teman bercanda
dan bermain......” ia terdiam sejenak sembari menelan ludahnya, “ Tapi tidak
mengapa sih Bu saya rela kok, asal saya tidak menularkan penyakit ini pada
teman teman saya”. Aku menghela napas lalu aku mulai berpikir bagaimana cara
menolong Rina, aku tahu siswa siswaku mungkin hanya salah paham dan tidak tahu
apa yang sebenarnya terjadi dengan rina, karena minimnya pengetahuan mereka.
besok aku akan ke kelas itu dan menemukan kelompok untuk rina,apalagi materi
yang kuajarkan besok adalah tentang genetika, aku akan mengedukasi mereka,
gumamku dalam hati. Aku jadi sedikit paham bisa saja selama ini Rina tertekan
dan tidak bisa belajar maksimal karena ia tidak punya teman diskusi sehingga
nilai nilainya selama ini aku kategorikan sangat jelek. Akhirnya aku menyuruh
Rina untuk kembali ke kelasnya, dan aku berjanji besok akan membuat keputusan
untuk Rina mengenai kelompok belajarnya. Rina yang masih dalam keadaaan bingung
menuruti perintahku, dengan langkah lemah kulihat ia menyusuri koridor kelasnya
dan menghilang di balik pintu.
Keesokan
hari, aku kembali mengajar di kelas IX G aku dengan semangat membawa buku tes
untuk buta warna, di kelas satu persatu kusuruh siswaku untuk menyebutkan angka
yang tertulis di buku itu hingga tiba giliran Doni yang tak bisa menyebut
satupun angka yang ada di buku itu. Aku menyuruhnya untuk duduk kembali,
kutanya pada Doni, mengapa ia tidak bisa menyebut angka itu seperti
teman-temannya. Doni dengan lantang berkata bahwa ia mengidap penyakit buta
warna. Kutanya lagi pada teman teman Doni apakah selama kalian bergaul dengan Doni
ada yang sempat tertular penyakit yang
sama dengan Doni, serentak mereka menjawab “tidaaaakkkkkkkkkkk...”,..”Coba baca
buku kalian mengenai penyakit genetis di halaman 34!”kataku memerintah. Denga
sigap semua anak membeca buku paketnya. “Digongkan penyakit apa buta warna itu
anak anak?”tanyaku. “Penyakit genetis Bu,” jawab mereka serempak. “Apakah
penyakit genetis itu menular anak-anak?”tanyaku lagi. “tidaaakkk Bu”jawab
mereka lagi. “Lalu selain buta warna penyakit genetis lainnya apa lagi ya?”aku
mulai memancing pengetahuan mereka. “Albino Bu!”, jawab Anggi dari pojok depan.
“Hemofili Bu!” celetuk Karis sambil tersenyum, ‘Thalasemia, Diabetes”jawab
Tias. Aku tersenyum, dan memuji mereka. “Lalu bagaiamana dengan Rina?”tanyaku
sekali lagi. Tiba tiba kelas menjadi hening semua terdiam, tidak ada suara.
Sekilas aku melirik Rina, ia terlihat tertunduk ketika namanya disebut. “Sama
halnya dengan Doni, Rina juga memiliki penyakit genetis, dan seperti yang
kalian utarakan tadi penyakit genetis bukanlah penyakit menular, lalu mengapa
perlakuan kalian ke Doni berbeda dengan perlakuan kalian ke Rina?”tanyaku lagi
sambil memandang siswa siswaku satu persatu. Mereka terlihat saling pandang
dengan teman sebangkunya, bahkan ada beberapa anak berbisik bisik di belakang.
Kupanggil Rina untuk maju ke depan kelas, dengan terpaksa Rina menuruti
perintahku ia berdiri tepat disampingku. Kupeluk Rina dan kugenggam tangannya
di depan kelas IX G, anak anak menahan pekiknya...”aaaahhhhh”. “Lihatlah anak
anakku, tidak akan terjadi apa apa dengan Ibu juga jikalau kaliaan berperilaku
sama seperti Ibu terhadap Rina. Kalian tidak akan tertular, coba kalian
bayangkan jika seandainya kalianlah atau saudara kalian yang ada diposisi Rina,
tegakah kalian mengucilkannya dan menganggap Rina seolah olah tidak ada di
kelas ini. Sementara hati Rina sakit dan menjerit meminta sekedar kasih
pertemanan dari kalian”. Tiba-tiba Rina terisak, ia tidak kuasa lagi memendam
air matanya, Rina menangis sesenggukan, ia menumpahkan semua di dada gurunya,
ia menangis di depan teman-temannya, tangis yang dahulu kerap ia sembunyikan,
isak yang dahulu sering ia tahan agar terlihat tegar dimata siapapun yang
meamandangnya. Ia tak perlu rasa kasihan, juga tak perlu rasa iba. Tapi kali
ini semua batu yang menyesak dadanya sudah terpecahkan.
Karis
yang merupakan sekretaris di kelas IX G maju menghampiriku dan Rina, ia
mengulurkan tangannya ke arah Rina dan berkata”Maafkan perlakuan kami ya Rin,
tak sengaja kami sudah melukai perasaanmu, kebodohan dan rasa takut kami
membuat kami menjadi teman yang buruk”, Karis pun kemudian memeluk Rina dengan
hangat, ada senyum kecil yang tersungging di sudut bibir Rina. Tiba-tiba dari
tempat duduk belakang Doni mengangkat tangannya. “Bu Guru, biar Rina sekelompok
sama saya aja ya Bu” belum sempat aku mengiyakan Karis sudah lebih dulu
menggenggam tangan Rina dan berkata “Gak lah Don...biar Rina jadi kelompokku
aja.”sembari nyengir kuda ke arah Doni. Hal itupun mengundang gelak tawa di
kelas itu. Rina mengangguk ke arah Karis, dia berterimakasih kepada Karis dan
Doni. Lalu Rina mendekatiku, mengambil tanganku dan menciumnya berulang
kali.”Ibu terimakasih katanya lirih dengan masih membawa suasana haru.
Hari itu aku telah menepati janjiku untuk
mencarikan kelompok belajar untuk Rina. Kelompok yang menerimanya tanpa
paksaaan bahkan Rina sempat diperebutkan oleh dua kelompok. Itu membuat aku menjadi Guru yang paling
bahagia di sekolah ini. Misi pertamaku di sekolah yang baru membuahkan senyum
bahagia di wajah siswa siswaku. Dua bulan semenjak kejadian itu nilai-nilai Rina
jauh berkembang pesat. Dulu jika nilainya lebih banyak KKM kini angka delapan
dan sembilan mewarnai lembar kerjanya. Aku turut merasa bersyukur dan turut
senang akan pencapaiannya saat ini. Tak ada lagi panggilan si kulit bersisik
untuk Rina atau si Bau Tengik, yang ada adalah penerimaan dan masuknya
pemahaman dari ilmu pengetahuan yang mengubah pola pikir dan pandangan siswa
siswiku terhadap sosok Rina. Semoga kedepannya anak anak akan lebih dapat
belajar dengan baik, menggunakan pengetahuan untuk berlogika sehingga
pengatahuan itupun dapat menuntun jalan hidup mereka menjadi lebih baik.
MEMBANGUN JIWA DAN RAGA SISWA MELALUI SEKAR GANA ( Inovasi Implementasi Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 1 Amlapura)
MEMBANGUN JIWA DAN RAGA SISWA MELALUI SEKAR GANA ( Inovasi Implementasi Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 1 Amla...
-
Hai Rekan Belajar Berbudaya ( Belajar Bersama Bu Damayanti)........ Curhat dikit nih selama jadi Guru pasti pernah dong suatu hari kita ...
-
Dari Materi yang sudah saya pelajari, materi yang menurut saya dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembel...









